Senin, 24 September 2012

Bulan Bahasa

Lomba Menulis 2012



BAHASA INDONESIA DAN KITA


Setiap bangsa memiliki bahasanya sendiri, sebagai alat dan sarana komunikasi penting di sebuah negara yang berdaulat, serta peradaban manusia, sebab tanpa bahasa kita tidak akan dapat berkomunikasi baik dengan siapapun, apalagi untuk lebih mengetahui karakter serta asal-usul seseorang. Kita bisa mengenal seseorang dari bahasanya.

Banyak yang mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa”

Demikian pula bangsa Indonesia, memiliki bahasa persatuan dan bahasa negara sebagai bahasa nasional yakni: Bahasa Indonesia yang kita peringati setiap bulan oktober sebagai bulan bahasa kita.

Adapun tema peringatan bulan bahasa tahun 2012 adalah BAHASA INDONESIA DAN KITA.

Antara bahasa Indonesia dengan kita (bangsa Indonesia) sangat erat hubungannya, karena saling membutuhkan satu sama lain, ada ketergantungan satu sama lain. Kita sadari bersama bahwa kita butuh bahasa sebagai sarana komunikasi, sedang bahasa itu sendiri harus ada pelakunya yakni kita. Karena itu, seharusnyalah kita berbahasa Indonesia dalam tata bahasa Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun inilah yang masih menjadi masalah yang belum terpecahkan diantara para pakar bahasa Indonesia. Kita belum bisa mempedomani buku tata bahasa yang ada, termasuk buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia untuk dijadikan sebagai pedoman dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pada kesempatan bulan bahasa ini, penulis berpendapat ada 3 faktor masalah yang khusus dan serius untuk dibenahi bersama karena dapat mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia kedepan.

Faktor I:

Dalam kenyataannya, perkembangan penggunaan tata bahasa bahasa Indonesia belum mengalami kemajuan yang memuaskan, karena ada beberapa faktor masalah yang belum dapat secara pasti dan teliti untuk diungkapkan. Ini masih menjadi sebuah teka-teki yang belum terselesaikan. Mengapa belum selesai? Jawabnya adalah: belum ada penelitian disertai disertasi tentang bahasa Indonesia oleh para pakar Indonesia. Para pengguna bahasa Indonesia dan yang tertarik ingin tahu lebih mendalam lagi akan “ketatabahasan bahasa Indonesia”, masih terus bertanya-tanya bahkan pakar asing yang ingin mendalaminya belum mendapat jawaban yang pasti.

Sebagai contoh sederhana saja dalam menggunakan prefiks ber- dan prefiks me-….. Juga, cara menggunakan afiks memper-….kan. Mengapa bentuk mempersatukan dikatakan benar, tetapi bentuk mempertimbulkan dikatakan salah, melainkan menimbulkan dikatakan benar.

Apabila ditanyakan kepada pakarnya yang dianggap lebih mengerti, maka kita tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan dan pasti. Paling jawabannya; yang itu tidak wajar dan lazim; yang ini benar. Ya, karena memang begitu … suatu jawaban yang tidak ilmiah! Masih banyak contoh lain yang kita temukan dalam tatanan bahasa Indonesia. Kita harus akui, bahwa berbagai pertanyaam “seputar seluk beluk mengenai tata bahasa bahasa Indonesia”, sebaiknya segera dikaji lebih mendalam dan secara ilmiah, agar tidak menjadi sebuah perdebatan yang berkepanjangan. Semoga masalah ketatabahasaan bahasa Indonesia ini dapat menjadi kontribusi bagi kajian linguistik bahasa Indonesia selain demi pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia itu sendiri.

Faktor 2:

Konsekwensi dari sebuah kemajuan tehnologi yang sudah mengglobal “internet jejaring sosial”, yang lagi digemari oleh masyarakat dunia termasuk Indonesia, juga sangat berpengaruh besar dalam pengembangan bahasa Indonesia. Sebagai media yang bebas; Facebook, Twitter, termasuk BBM dan SMS, para pengguna jejaring sosial ini sebetulnya dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk menulis panjang dan lebih banyak, sehingga ide dan pikiran dapat dipaparkan lebih jelas. Tapi kenyataannya, penyampaian ide dan maksud lewat media ini, tidak utuh lagi, disingkat-singkat, terkesan sepotong-sepotong dan ada bagian-bagian yang dihilangkan serta pengungkapan beritanya menggunakan bahasa yang sagat dangkal dan terbatas. Akibatnya, seringkali menjadi masalah baru, sebab satu komentar menimbulkan salah tafsir, kesalahpahaman dan perseteruan. Namun, media ini justru sangat digemari masyarakat.

Penulis kurang sependapat dengan para pengguna jejaring sosial ini, apabila ide dan pikiran ditulis dalam bahasa Indonesia dengan begitu mudah dipenggal-penggal sesuka hati dan tidak utuh lagi, seolah-olah para pembaca sudah mengerti sendiri maksudnya. Penulis berpendapat bahasa Indonesia kita menjadi kurang kualitasnya. Terbukti dari para pengguna sendiri menjadi malas untuk menulis suatu ide yang utuh dan panjang sama artinya bahwa pengguna tidak mendukung upaya mengembangkan karya jurnalistik.

Faktor 3:

Yang tidak kalah pentingnya dalam pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia adalah; kian menjamurnya kursus-kursus bahasa asing yang tersebar di seluruh Indonesia, khusus di kota-kota besar. Penulis berpendapat, bahwa keberadaan lembaga-lembaga bahasa asing yang saling bersaing ini tentu ada positifnya, namun ada pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Banyaknya kursus-kursus asing antara lain: bahasa Inggris, Mandarin, Belanda, Prancis dan Jerman, di negeri kita sangat berpengaruh dalam pengembangan bahasa Indonesia. Sebab lambat namun pasti akan terjadi pergeseran dan kurangnya kuantitas bahasa Indonesia.

Ini dapat kita lihat dalam keluarga-keluarga di perkotaan, yang mempunyai multi ras dan bahasa bahkan keluarga-keluarga asli penduduk Indonesia sudah banyak yang menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari didalam keluarganya. Anak-anak mereka banyak yang ambil kursus-kursus bahasa asing ini harus dipraktekkan sehari-hari. Akibatnya lambat laun di dalam satu keluarga banyak yang lebih tertarik dengan bahasa yang diminati tersebut. Bahasa Indonesia hanya sebagai pelengkap saja.

Begitu pula warga negara Indonesia yang berdomisili di negara-negara lain, banyak yang sudah menggunakan bahasa setempat dan mulai meninggalkan bahasa Indonesia. Kita akui semakin banyak warga negara Indonesia yang tersebar di segala penjuru dunia dari tahun ke tahun. Oleh karenanya, penulis berpendapat kita harus segera ambil tindakan yang preventif/pencegahan, demi untuk “kelestarian bahasa kita, bahasa Indonesia”. Pemerintah dalam hal ini khususnya Depdikbud di pusat maupun di daerah-daerah dan jajarannya agar supaya;

1. Tekankan pembinaan bahasa Indonesia secara serius di sekolah-sekolah formal, informal maupun non formal.

2. Depdiknas harus menangani dan mencetak buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan umum dengan memperhatikan kualitas bahasanya.

3. Para pakar bahasa Indonesia, perlu menelaah dan memikirkan lagi, kiranya mau memulai merintis pembukaan Lembaga Kursus Bahasa Indonesia. Walau tidak mudah, tidak ada salahnya untuk dicoba, karena warga asing yang tinggal diperkotaan sudah mulai banyak dan para peminat bahasa ingin lebih memperdalam lagi mengenai ketatabaasa bahasa Indonesia.

4. Di berbagai event penting dan bersejarah dihimbau instansi-instansi pemerintah maupun swasta secara periodik adakan berbagai kegiatan lomba.

5. Juga dihimbau bagi warganegara Indonesia dimanapun berada khususnya yang berada di negara lain, untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia.

6. Kita angkat citra bangsa Indonesia, melalui bahasa Indonesia di mata dunia.

7. Masyarakat Indonesia suka dan mudah meniru, diharapkan jangan merasa senang dan bangga menggunakan istilah-istilah asing yang hanya mengaburkan dan mencemari keaslian bahasa Indonesia.

Lebih mendalam lagi bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, emosional kita. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan kita dalam mempelajari semua bidang studi, ilmu pengetahuan dan mengenal bangsa dan budaya kita, serta budaya negara lain. Diharapkan kita mampu memahami bahasa Indonesia dengan benar dan menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan Indonesia serta cinta akan tanah air.

Mari dalam bulan bahasa Indonesia ini, kita introspeksi diri masing-masing, merenungkan apa yang sudah kita lakukan bagi bangsa kita, serta apakah penggunaan bahasa Indonesia kita sudah benar, sambil mawas diri dalam memelihara kelestarian bahasa Indonesia yang berkualitas. Bila kita telah mampu berapresiasi bahasa dengan dunia internasional, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti bahasa Indonesia mampu bersaing dengan bahasa lain agar dijadikan salah satu bahasa alternatif sebagai bahasa pemersatu bangsa. Kenapa tidak !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar