Bulan Bahasa
Lomba Menulis 2012
BAHASA INDONESIA DAN KITA
Setiap bangsa memiliki bahasanya sendiri, sebagai alat dan sarana komunikasi penting
di sebuah negara yang berdaulat, serta peradaban manusia, sebab tanpa
bahasa kita tidak akan dapat berkomunikasi baik dengan siapapun, apalagi
untuk lebih mengetahui karakter serta asal-usul seseorang. Kita bisa
mengenal seseorang dari bahasanya.
Banyak yang mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa”
Demikian
pula bangsa Indonesia, memiliki bahasa persatuan dan bahasa negara
sebagai bahasa nasional yakni: Bahasa Indonesia yang kita peringati
setiap bulan oktober sebagai bulan bahasa kita.
Adapun tema peringatan bulan bahasa tahun 2012 adalah BAHASA INDONESIA DAN KITA.
Antara
bahasa Indonesia dengan kita (bangsa Indonesia) sangat erat
hubungannya, karena saling membutuhkan satu sama lain, ada
ketergantungan satu sama lain. Kita sadari bersama bahwa kita butuh
bahasa sebagai sarana komunikasi, sedang bahasa itu sendiri harus ada
pelakunya yakni kita. Karena itu, seharusnyalah kita berbahasa Indonesia
dalam tata bahasa Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun inilah
yang masih menjadi masalah yang belum terpecahkan diantara para pakar
bahasa Indonesia. Kita belum bisa mempedomani buku tata bahasa yang ada,
termasuk buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia untuk dijadikan sebagai
pedoman dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Pada
kesempatan bulan bahasa ini, penulis berpendapat ada 3 faktor masalah
yang khusus dan serius untuk dibenahi bersama karena dapat mempengaruhi
perkembangan Bahasa Indonesia kedepan.
Faktor I:
Dalam
kenyataannya, perkembangan penggunaan tata bahasa bahasa Indonesia
belum mengalami kemajuan yang memuaskan, karena ada beberapa faktor
masalah yang belum dapat secara pasti dan teliti untuk diungkapkan. Ini
masih menjadi sebuah teka-teki yang belum terselesaikan. Mengapa belum
selesai? Jawabnya adalah: belum ada penelitian disertai disertasi tentang bahasa Indonesia oleh para pakar Indonesia.
Para pengguna bahasa Indonesia dan yang tertarik ingin tahu lebih
mendalam lagi akan “ketatabahasan bahasa Indonesia”, masih terus
bertanya-tanya bahkan pakar asing yang ingin mendalaminya belum mendapat
jawaban yang pasti.
Sebagai contoh sederhana saja dalam menggunakan prefiks ber-… dan prefiks me-….. Juga, cara menggunakan afiks memper-….kan. Mengapa bentuk mempersatukan dikatakan benar, tetapi bentuk mempertimbulkan dikatakan salah, melainkan menimbulkan dikatakan benar.
Apabila
ditanyakan kepada pakarnya yang dianggap lebih mengerti, maka kita
tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan dan pasti. Paling jawabannya;
yang itu tidak wajar dan lazim; yang ini benar. Ya, karena memang
begitu … suatu jawaban yang tidak ilmiah! Masih banyak contoh lain yang
kita temukan dalam tatanan bahasa Indonesia. Kita harus akui, bahwa
berbagai pertanyaam “seputar seluk beluk mengenai tata bahasa bahasa
Indonesia”, sebaiknya segera dikaji lebih mendalam dan secara ilmiah,
agar tidak menjadi sebuah perdebatan yang berkepanjangan. Semoga masalah
ketatabahasaan bahasa Indonesia ini dapat menjadi kontribusi bagi
kajian linguistik bahasa Indonesia selain demi pembinaan dan
pengembangan bahasa Indonesia itu sendiri.
Faktor 2:
Konsekwensi
dari sebuah kemajuan tehnologi yang sudah mengglobal “internet jejaring
sosial”, yang lagi digemari oleh masyarakat dunia termasuk Indonesia,
juga sangat berpengaruh besar dalam pengembangan bahasa Indonesia.
Sebagai media yang bebas; Facebook, Twitter, termasuk BBM dan SMS, para
pengguna jejaring sosial ini sebetulnya dapat memanfaatkan fasilitas ini
untuk menulis panjang dan lebih banyak, sehingga ide dan pikiran dapat
dipaparkan lebih jelas. Tapi kenyataannya, penyampaian ide dan maksud
lewat media ini, tidak utuh lagi, disingkat-singkat, terkesan
sepotong-sepotong dan ada bagian-bagian yang dihilangkan serta
pengungkapan beritanya menggunakan bahasa yang sagat dangkal dan
terbatas. Akibatnya, seringkali menjadi masalah baru, sebab satu
komentar menimbulkan salah tafsir, kesalahpahaman dan perseteruan.
Namun, media ini justru sangat digemari masyarakat.
Penulis
kurang sependapat dengan para pengguna jejaring sosial ini, apabila ide
dan pikiran ditulis dalam bahasa Indonesia dengan begitu mudah
dipenggal-penggal sesuka hati dan tidak utuh lagi, seolah-olah para
pembaca sudah mengerti sendiri maksudnya. Penulis berpendapat bahasa
Indonesia kita menjadi kurang kualitasnya. Terbukti dari para pengguna
sendiri menjadi malas untuk menulis suatu ide yang utuh dan panjang sama
artinya bahwa pengguna tidak mendukung upaya mengembangkan karya
jurnalistik.
Faktor 3:
Yang
tidak kalah pentingnya dalam pengembangan dan pembinaan bahasa
Indonesia adalah; kian menjamurnya kursus-kursus bahasa asing yang
tersebar di seluruh Indonesia, khusus di kota-kota besar. Penulis
berpendapat, bahwa keberadaan lembaga-lembaga bahasa asing yang saling
bersaing ini tentu ada positifnya, namun ada pula dampak negatif yang
ditimbulkannya. Banyaknya kursus-kursus asing antara lain: bahasa
Inggris, Mandarin, Belanda, Prancis dan Jerman, di negeri kita sangat
berpengaruh dalam pengembangan bahasa Indonesia. Sebab lambat namun
pasti akan terjadi pergeseran dan kurangnya kuantitas bahasa Indonesia.
Ini
dapat kita lihat dalam keluarga-keluarga di perkotaan, yang mempunyai
multi ras dan bahasa bahkan keluarga-keluarga asli penduduk Indonesia
sudah banyak yang menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari
didalam keluarganya. Anak-anak mereka banyak yang ambil kursus-kursus
bahasa asing ini harus dipraktekkan sehari-hari. Akibatnya lambat laun
di dalam satu keluarga banyak yang lebih tertarik dengan bahasa yang
diminati tersebut. Bahasa Indonesia hanya sebagai pelengkap saja.
Begitu
pula warga negara Indonesia yang berdomisili di negara-negara lain,
banyak yang sudah menggunakan bahasa setempat dan mulai meninggalkan
bahasa Indonesia. Kita akui semakin banyak warga negara Indonesia yang
tersebar di segala penjuru dunia dari tahun ke tahun. Oleh karenanya,
penulis berpendapat kita harus segera ambil tindakan yang
preventif/pencegahan, demi untuk “kelestarian bahasa kita, bahasa
Indonesia”. Pemerintah dalam hal ini khususnya Depdikbud di pusat maupun
di daerah-daerah dan jajarannya agar supaya;
1. Tekankan pembinaan bahasa Indonesia secara serius di sekolah-sekolah formal, informal maupun non formal.
2. Depdiknas
harus menangani dan mencetak buku-buku pelajaran dan buku ilmu
pengetahuan umum dengan memperhatikan kualitas bahasanya.
3. Para
pakar bahasa Indonesia, perlu menelaah dan memikirkan lagi, kiranya mau
memulai merintis pembukaan Lembaga Kursus Bahasa Indonesia. Walau tidak
mudah, tidak ada salahnya untuk dicoba, karena warga asing yang tinggal
diperkotaan sudah mulai banyak dan para peminat bahasa ingin lebih
memperdalam lagi mengenai ketatabaasa bahasa Indonesia.
4. Di berbagai event penting dan bersejarah dihimbau instansi-instansi pemerintah maupun swasta secara periodik adakan berbagai kegiatan lomba.
5. Juga
dihimbau bagi warganegara Indonesia dimanapun berada khususnya yang
berada di negara lain, untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia.
6. Kita angkat citra bangsa Indonesia, melalui bahasa Indonesia di mata dunia.
7. Masyarakat
Indonesia suka dan mudah meniru, diharapkan jangan merasa senang dan
bangga menggunakan istilah-istilah asing yang hanya mengaburkan dan
mencemari keaslian bahasa Indonesia.
Lebih
mendalam lagi bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan
intelektual, sosial, emosional kita. Bahasa juga merupakan penunjang
keberhasilan kita dalam mempelajari semua bidang studi, ilmu pengetahuan
dan mengenal bangsa dan budaya kita, serta budaya negara lain.
Diharapkan kita mampu memahami bahasa Indonesia dengan benar dan
menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan Indonesia serta
cinta akan tanah air.
Mari
dalam bulan bahasa Indonesia ini, kita introspeksi diri masing-masing,
merenungkan apa yang sudah kita lakukan bagi bangsa kita, serta apakah
penggunaan bahasa Indonesia kita sudah benar, sambil mawas diri dalam
memelihara kelestarian bahasa Indonesia yang berkualitas. Bila kita
telah mampu berapresiasi bahasa dengan dunia internasional, bukan tidak
mungkin, suatu saat nanti bahasa Indonesia mampu bersaing dengan bahasa
lain agar dijadikan salah satu bahasa alternatif sebagai bahasa
pemersatu bangsa. Kenapa tidak !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar